Oleh: Irfa Ramadhani
Mulai dari pembekalan kepala sekolah untuk mempersiapkan diskusi penyusunan strategi sekolah secara umum, praktik diskusi penyusunan strategi (school strategic discussion) yang melibatkan seluruh stakeholder di masing-masing sekolah dampingan, pembekalan program literasi untuk kepala sekolah dan guru model dengan terstruktur dan berkala, hingga kesinambungan dalam hal implementasi secara praktis di lapangan.
KEKHASAN LITERASI TERPADU UNTUK SISWA
Kekhasan literasi terpadu untuk siswa ada 4 (bisa juga lebih), yaitu:
KEKHASAN LITERASI TERPADU UNTUK GURU
____________________________________________
*dulu program pendampingan sekolah ini mengusung nama Sekolah Cerdas Literasi. Transformasi menjadi Sekolah Literasi Indonesia dimulai sejak tahun 2015.
![]() |
| Peliputan media ketika pelatihan "Program Kekhasan Literasi" SLI |
Berpengalaman
sejak tahun 2010* dalam mendampingi peningkatan kualitas sekolah di 30 provinsi
yang terbentang dari Sumatera hingga Papua, SLI berkomitmen untuk terus melakukan
upaya peningkatan mutu pendampingan. Peningkataan mutu ini dilakukan secara
komprehensif melalui berbagai komponen, termasuk diantaranya konsep program
literasi yang menjadi ciri khas pendampingan.
Sudah membaca “Tentang Kami” Sekolah Literasi Indonesia Kulon Progo (SLI KP)? Jika sudah, mari kita lanjutkan. Kali ini penulis akan menyampaikan “bumbu rahasia” peningkatan kualitas sekolah ala SLI.
SLI KP sendiri
telah melaksanakan pelatihan “Program Kekhasan Literasi” pada hari Selasa
(4/2) di aula Perpustakaan Daerah Kulon Progo. Berbeda dengan
pelatihan-pelatihan yang lain, pada pelatihan ini kami disinggahi beberapa tamu
media cetak maupun TV (kominfo Kulon Progo, harian jogja, SCTV/Indosiar, dll).
Sedikit
intermeso. Ternyata benar, kemudahan yang diperoleh itu merupakan tantangan
yang lebih melenakan daripada kesulitan yang dihadapi. Biasanya setiap akhir
pelatihan, KAWAN SLI menuliskan publikasi internal, namun kali itu
tidak. Merasa tenang karena ada yang membantu publikasi dari media
eksternal, akhirnya KAWAN melakukan kegiatan lain. Padahal, sudut pandang
publikasi internal berbeda daripada sudut pandang eksternal.
Untuk menutupi
kekurangan tersebut, penulis akan me-review materi yang telah disampaikan 2 bulan
lalu. Semoga bermanfaat (untuk segenap peserta pendampingan maupun para pembaca lainnya).
Sudah banyak
literatur yang menjelaskan mengenai sejarah dan pengertian literasi. Oleh karenanya, pada
kesempatan ini penulis akan langsung membahas kegiatan literasi sekolah.
Kita mulai dengan sebuah pertanyaan, "Apa saja kegiatan literasi yang sudah dilaksanakan di sekolah?". "Sudah banyak?". Baik.
Kita masuk pertanyaan kedua, "Bagaimana efektivitas pelaksanaan kegiatan
literasi tersebut?"
Sejauh
pendampingan SLI berjalan, kebanyakan penerapan literasi di sekolah baru
berfokus pada siswa, belum melibatkan orang tua, belum variatif, belum menjadi
budaya, sebatas seremonial, sebatas menulis dan membaca, belum diprogramkan,
serta belum ada evaluasi.
Untuk meningkatkan budaya literat suatu sekolah dengan signifikan, idealnya, kegiatan literasi bukan hanya berfokus pada siswa. Kita juga perlu melibatkan segenap stakeholder sekolah
(kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, komite, orang tua, serta masyarakat lain).
Mulai dari pembekalan kepala sekolah untuk mempersiapkan diskusi penyusunan strategi sekolah secara umum, praktik diskusi penyusunan strategi (school strategic discussion) yang melibatkan seluruh stakeholder di masing-masing sekolah dampingan, pembekalan program literasi untuk kepala sekolah dan guru model dengan terstruktur dan berkala, hingga kesinambungan dalam hal implementasi secara praktis di lapangan.
Meski saat ini
program terjeda covid-19. Beberapa program literasi yang dapat dilakukan secara daring (online) tetap diupayakan.
Kembali membahas
mengenai kelas literasi terpadu. Sebagai langkah awal pembentukan budaya literasi di sekolah, kita kerucutkan menjadi dua kelas literasi,
yaitu literasi terpadu untuk siswa dan literasi terpadu untuk guru.
Untuk masyarakat bagaimana? Program literasi untuk orang tua, komite, dan masyarakat lainnya akan mudah menyesuaikan ketika literasi terpadu siswa dan guru telah berjalan. Sebagai permulaan, program literasi untuk masyarakat dapat dilakukan dengan contoh gambar di bawah ini. Selanjutnya akan dibahas pada kekhasan literasi terpadu untuk siswa.
Untuk masyarakat bagaimana? Program literasi untuk orang tua, komite, dan masyarakat lainnya akan mudah menyesuaikan ketika literasi terpadu siswa dan guru telah berjalan. Sebagai permulaan, program literasi untuk masyarakat dapat dilakukan dengan contoh gambar di bawah ini. Selanjutnya akan dibahas pada kekhasan literasi terpadu untuk siswa.
![]() |
| Salah satu implementasi program SLI: Proses pembuatan ceruk ilmu (MIN 2 Kulon Progo) melibatkan orang tua siswa. |
KEKHASAN LITERASI TERPADU UNTUK SISWA
Kekhasan literasi terpadu untuk siswa ada 4 (bisa juga lebih), yaitu:
1.
Pengadaan ceruk ilmu (pojok baca). Kita siapkan dulu stimulusnya, baru programnya. Bukan hanya melibatkan siswa, pelibatan orang tua dalam melakukan persiapan 'lingkungan belajar yang nyaman di sekolah' sangat dianjurkan. Sebagaimana hasil dari school strategic discussion sebelumnya. Kegiatan ini sebagai upaya peningkatan koordinasi antara guru, siswa, dan orang tua mengenai sinergitas pola pendidikan anak. Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengadaan ceruk ilmu,
yaitu:
a.
Visibilitas (mudah terlihat dan terjangkau oleh
siswa),
b.
Konten (berisi buku penunjang, bukan buku
pelajaran),
c.
Record/tercatat
(memiliki jurnal ceruk ilmu dan jurnal siswa),
d.
Terprogram (adanya program pembiasaan #gemaribaca)
2.
Gemari baca (program pembiasaan)
a.
30 menit membaca buku (dengan 4 kegiatan membaca
menyenangkan)
b.
Reading response
(menulis kembali, menggambar, bercerita, mengarang)
3.
Literasi karakter (program menyesuaikan)
4.
Jurnalis cilik (program menyesuaikan)
Pada praktiknya,
penerapan literasi ini dilakukan secara bertahap sebagaimana target dan kemampuan masing-masing sekolah dampingan. Sebagai catatan, sekolah dampingan SLI KP merupakan 10
sekolah/madrasah yang terpilih melalui serangkaian seleksi ketat dari puluhan
sekolah pendaftar. Kami (KAWAN SLI) optimis dan
bangga atas perjuangan dari masing-masing sekolah/madrasah dampingan SLI KP
jilid 1.
KEKHASAN LITERASI TERPADU UNTUK GURU
Selanjutnya, kekhasan
literasi terpadu untuk guru ada 3, yaitu:
1.
Ceruk ilmu,
a.
Diletakkan di kantor (ruang guru),
b.
Berisi buku yang relevan dengan peningkatan
kompetensi guru.
2.
Kronik guru/Jurnal guru,
a.
Diisi setiap hari (setelah selesai KBM),
b.
Berisi refleksi diri (perasaan, keberhasilan,
hal yang perlu ditingkatkan, dll),
c.
Bentuknya bisa tulisan ataupun gambar,
d.
Feedback
dari kepala sekolah, minimal seminggu sekali,
e.
Bisa digunakan sebagai bahan sharing/learning
community.
3.
Learning community (kegiatan kelompok guru untuk
melakukan book sharing, lesson study, dan
kelas trainer).
Selain program kekhasan literasi yang telah disebutkan, SLI juga mengoptimalkan perpustakaan sekolah sehingga diharapkan mampu meningkatkan budaya literasi siswa dan guru. Ingin tahu lebih lanjut? Baca juga ringkasan pelatihan manajemen perpustakaan SLI.
Semangat untuk terus berubah dan membawa perubahan.
Salam 3B! Bahagia, Berlanjut, Berbagi!
RAHASIA TERBESAR perbaikan diri dan sesama,
yaitu.... TIDAK ADANYA RAHASIA
Semangat untuk terus berubah dan membawa perubahan.
Salam 3B! Bahagia, Berlanjut, Berbagi!
*dulu program pendampingan sekolah ini mengusung nama Sekolah Cerdas Literasi. Transformasi menjadi Sekolah Literasi Indonesia dimulai sejak tahun 2015.





Komentar
Posting Komentar