Langsung ke konten utama

"RAHASIA" Peningkatan Kualitas Sekolah Ala SLI

Oleh: Irfa Ramadhani
Peliputan media ketika pelatihan "Program Kekhasan Literasi" SLI
Berpengalaman sejak tahun 2010* dalam mendampingi peningkatan kualitas sekolah di 30 provinsi yang terbentang dari Sumatera hingga Papua, SLI berkomitmen untuk terus melakukan upaya peningkatan mutu pendampingan. Peningkataan mutu ini dilakukan secara komprehensif melalui berbagai komponen, termasuk diantaranya konsep program literasi yang menjadi ciri khas pendampingan.

Sudah membaca “Tentang Kami” Sekolah Literasi Indonesia Kulon Progo (SLI KP)? Jika sudah, mari kita lanjutkan. Kali ini penulis akan menyampaikan “bumbu rahasia” peningkatan kualitas sekolah ala SLI.

SLI KP sendiri telah melaksanakan pelatihan “Program Kekhasan Literasi” pada hari Selasa (4/2) di aula Perpustakaan Daerah Kulon Progo. Berbeda dengan pelatihan-pelatihan yang lain, pada pelatihan ini kami disinggahi beberapa tamu media cetak maupun TV (kominfo Kulon Progo, harian jogja, SCTV/Indosiar, dll).
Sedikit intermeso. Ternyata benar, kemudahan yang diperoleh itu merupakan tantangan yang lebih melenakan daripada kesulitan yang dihadapi. Biasanya setiap akhir pelatihan, KAWAN SLI menuliskan publikasi internal, namun kali itu tidak. Merasa tenang karena ada yang membantu publikasi dari media eksternal, akhirnya KAWAN melakukan kegiatan lain. Padahal, sudut pandang publikasi internal berbeda daripada sudut pandang eksternal. 

Untuk menutupi kekurangan tersebut, penulis akan me-review materi yang telah disampaikan 2 bulan lalu. Semoga bermanfaat (untuk segenap peserta pendampingan maupun para pembaca lainnya). 

Sudah banyak literatur yang menjelaskan mengenai sejarah dan pengertian literasi. Oleh karenanya, pada kesempatan ini penulis akan langsung membahas kegiatan literasi sekolah.

Kita mulai dengan sebuah pertanyaan, "Apa saja kegiatan literasi yang sudah dilaksanakan di sekolah?". "Sudah banyak?". Baik. Kita masuk pertanyaan kedua, "Bagaimana efektivitas pelaksanaan kegiatan literasi tersebut?" 

Sejauh pendampingan SLI berjalan, kebanyakan penerapan literasi di sekolah baru berfokus pada siswa, belum melibatkan orang tua, belum variatif, belum menjadi budaya, sebatas seremonial, sebatas menulis dan membaca, belum diprogramkan, serta belum ada evaluasi.


Untuk meningkatkan budaya literat suatu sekolah dengan signifikan, idealnya, kegiatan literasi bukan hanya berfokus pada siswa. Kita juga perlu melibatkan segenap stakeholder sekolah 
(kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, komite, orang tua, serta masyarakat lain).

Untuk itu, rancangan program literasi juga perlu dikembangkan secara terpadu. 
Sebagai contoh, pengembangan literasi secara terpadu telah diupayakan melalui program pendampingan SLI. 

Mulai dari pembekalan kepala sekolah untuk mempersiapkan diskusi penyusunan strategi sekolah secara umum, praktik diskusi penyusunan strategi (school strategic discussion) yang melibatkan seluruh stakeholder di masing-masing sekolah dampingan, pembekalan program literasi untuk kepala sekolah dan guru model dengan terstruktur dan berkala, hingga kesinambungan dalam hal implementasi secara praktis di lapangan. 
Praktik school strategic discussion SDN 1 Kulwaru 
bersama segenap stakeholder sekolah (termasuk Pak Dukuh)
Meski saat ini program terjeda covid-19. Beberapa program literasi yang dapat dilakukan secara daring (online) tetap diupayakan.

Kembali membahas mengenai kelas literasi terpadu. Sebagai langkah awal pembentukan budaya literasi di sekolah, kita kerucutkan menjadi dua kelas literasi, yaitu literasi terpadu untuk siswa dan literasi terpadu untuk guru.

Untuk masyarakat bagaimana? Program literasi untuk orang tua, komite, dan masyarakat lainnya akan mudah menyesuaikan ketika literasi terpadu siswa dan guru telah berjalan. Sebagai permulaan, program literasi untuk masyarakat dapat dilakukan dengan contoh gambar di bawah ini. Selanjutnya akan dibahas pada kekhasan literasi terpadu untuk siswa. 
Salah satu implementasi program SLI:
Proses pembuatan ceruk ilmu (MIN 2 Kulon Progo) melibatkan orang tua siswa. 

KEKHASAN LITERASI TERPADU UNTUK SISWA
Kekhasan literasi terpadu untuk siswa ada 4 (bisa juga lebih), yaitu:

1.       Pengadaan ceruk ilmu (pojok baca). Kita siapkan dulu stimulusnya, baru programnya. Bukan hanya melibatkan siswa, pelibatan orang tua dalam melakukan persiapan 'lingkungan belajar yang nyaman di sekolah'  sangat dianjurkan. Sebagaimana hasil dari school strategic discussion sebelumnya. Kegiatan ini sebagai upaya peningkatan koordinasi antara guru, siswa, dan orang tua mengenai sinergitas pola pendidikan anak. Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengadaan ceruk ilmu, yaitu:
a.       Visibilitas (mudah terlihat dan terjangkau oleh siswa),
b.       Konten (berisi buku penunjang, bukan buku pelajaran),
c.       Record/tercatat (memiliki jurnal ceruk ilmu dan jurnal siswa),
d.       Terprogram (adanya program pembiasaan #gemaribaca)
2.       Gemari baca (program pembiasaan)
a.       30 menit membaca buku (dengan 4 kegiatan membaca menyenangkan)
b.       Reading response (menulis kembali, menggambar, bercerita, mengarang)
3.       Literasi karakter (program menyesuaikan)
4.       Jurnalis cilik (program menyesuaikan)

Pada praktiknya, penerapan literasi ini dilakukan secara bertahap sebagaimana target dan kemampuan masing-masing sekolah dampingan. Sebagai catatan, sekolah dampingan SLI KP merupakan 10 sekolah/madrasah yang terpilih melalui serangkaian seleksi ketat dari puluhan sekolah pendaftar. Kami (KAWAN SLI) optimis dan bangga atas perjuangan dari masing-masing sekolah/madrasah dampingan SLI KP jilid 1.

KEKHASAN LITERASI TERPADU UNTUK GURU
Selanjutnya, kekhasan literasi terpadu untuk guru ada 3, yaitu:
1.       Ceruk ilmu,
a.       Diletakkan di kantor (ruang guru),
b.       Berisi buku yang relevan dengan peningkatan kompetensi guru.
2.       Kronik guru/Jurnal guru,
a.       Diisi setiap hari (setelah selesai KBM),
b.       Berisi refleksi diri (perasaan, keberhasilan, hal yang perlu ditingkatkan, dll),
c.       Bentuknya bisa tulisan ataupun gambar,
d.       Feedback dari kepala sekolah, minimal seminggu sekali,
e.       Bisa digunakan sebagai bahan sharing/learning community.
3.       Learning community (kegiatan kelompok guru untuk melakukan book sharing, lesson study, dan kelas trainer).

Selain program kekhasan literasi yang telah disebutkan, SLI juga mengoptimalkan perpustakaan sekolah sehingga diharapkan mampu meningkatkan budaya literasi siswa dan guru. Ingin tahu lebih lanjut? Baca juga ringkasan pelatihan manajemen perpustakaan SLI.

RAHASIA TERBESAR perbaikan diri dan sesama, 
yaitu.... TIDAK ADANYA RAHASIA

Semangat untuk terus berubah dan membawa perubahan.
Salam 3B! Bahagia, Berlanjut, Berbagi!

____________________________________________
*dulu program pendampingan sekolah ini mengusung nama Sekolah Cerdas Literasi. Transformasi menjadi Sekolah Literasi Indonesia dimulai sejak tahun 2015.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kami

PROGRAM SEKOLAH LITERASI INDONESIA KULON PROGO Sekolah Literasi Indonesia KulonProgo (SLI KP) merupakan salah satu program dari Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang bertujuan untuk: Mewujudkan model sekolah berkualitas. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah berbasis literasi. Bentuk program SLI berupa pelatihan dan pendampingan kepada kepala sekolah dan guru secara terstruktur, berkala dan berkesinambungan sampai tahap implementasi praktis di sekolah. Untuk mendukung hal tersebut, SLI mengirimkan 2 orang Konsultan Relawan (KAWAN) SLI di wilayah Kulon Progo (Irfa Ramadhani & Wahyu Widiyawati). Selain 2 KAWAN di Kulon Progo, pada SLI angkatan 3 ini, Dompet Dhuafa Pendidikan mengirimkan 12 KAWAN lainnya ke 4 wilayah Indonesia berbeda. Wilayah tersebut antara lain Semarang, Jawa Tengah; Asahan, Medan; Bima, NTB; dan Halmahera Selatan, Maluku Utara. Masing-ma...