Langsung ke konten utama

Perpustakaan Sepi: Mari Kita Hidupkan dengan Cara Ini

Oleh: Wahyu Widiyawati
Tahun 2019, perpustakaan Indonesia menempati peringkat kedua setelah India, yakni berjumlah 164.610 perpustakaan (kompas.com). Namun ternyata berbanding terbalik dengan kondisi minat baca masyarakat yang berada di peringkat 60 dari 61 negara (riset Central Connecticut State University, Amerika Serikat). Pada dasarnya, perpustakaan hadir sebagai pusat sumber belajar. Tempat pemenuhan keingintahuan, tempat berkeliling memupus kegalauan, serta tempat penumbuh cinta membaca para pendatangnya. Lalu mengapa masih terjadi kesenjangan antara jumlah perpustakaan dan minat baca masyarakat?

Menjejak era digitalisasi, kemudahan menjangkau informasi sangat melimpah. Masyarakat bertumbuh dengan lingkungan yang serba instan. Tidak lagi harus menjelajah berbagai buku, tinggal klik, informasi langsung tersedia. Bagaimana upaya menumbuhkan cinta membaca? Membaca yang dimaksud di sini ialah membaca buku, mengingat ada banyak sekali manfaat saat kita membaca buku cetak diantaranya mata kita tidak mudah lelah (terlepas dari radiasi), kita dapat mendandai hal-hal penting secara langsung di dalam buku, dapat dibuka kembali dengan cepat, menghilangkan stres, dll.

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Kulon Progo sebagai program Dompet Dhuafa Pendidikan (DDP) pada Selasa, 25 Februari telah melakukan pelatihan Manajemen Perpustakaan dan Fun Reading Activities (FRA) di MIN 2 Kulon Progo sebagai upaya menghidupkan perpustakaan. Menurut Ibu Sunarti, S.Pd. (guru SDN 1 Kulwaru), manajemen perpustakaan merupakan pengelolaan sedemikian rupa yang bertujuan untuk menarik minat baca. “Benar bahwa program perpustakaan akan mampu menarik dan meningkatkan minat baca siswa, guru, maupun karyawan. Akan tetapi, kondisi yang terjadi saat ini, beberapa sekolah sudah memiliki perpustakaan namun belum berjalan maksimal dan bahkan mati suri. Apa penyebabnya dan bagaimana solusinya?” timpal Konsultan Relawan (KAWAN) Wahyu.

Pelatihan ini sangat tepat untuk mengetahui cara menghidupkan perpustakaan dari akarnya. Tujuan pelatihan yaitu memperkenalkan tujuh komponen perpustakaan, memunculkan program perpustakaan, dan memahami empat kegiatan membaca menyenangkan, serta praktik empat kegiatan membaca menyenangkan. Komponen perpustakaan tersebut yaitu pustakawan kreatif, koleksi buku, administrasi perpustakaan, tata tertib, kegiatan literasi, tata ruang, dan bahan kaya bacaan. Selain itu, empat kegiatan membaca yaitu membaca lantang, membaca bersama, membaca berpasangan, dan membaca mandiri akan menjadi salah satu program perpustakaan yang nantinya dipraktikan di sekolah/madrasah penerima manfaat Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Peserta pelatihan ini ialah 10 kepala sekolah/kepala madrasah dan 20 perwakilan guru. Tujuh komponen perpustakaan akan kita bahas secara ringkas.

TUJUH KOMPONEN PERPUSTAKAAN

Pustakawan Kreatif
Tugas seorang pustakawan yang kita tahu ialah memastikan ruang perpustakaan siap digunakan, menata perabot di perpustakaan sedemikian rupa, mencatat rincian buku baru di daftar buku induk, dan melayani pemustaka. Ternyata ada bagian tugas pustakawan yang terlewat yaitu turut serta membuat program menarik agar pemustaka senang berada di perpustakaan. Pemustaka tidak hanya senang karena dapat membaca buku referensi dan menyelesaikan tugasnya, bukan karena mendapatkan akses wifi, tidak hanya sekadar administratif, tapi senang batinnya karena pustakawan kreatif hadir sebagai sosok yang memanusiakan manusia. Ia turut berinteraksi dengan pemustaka melalui program perpustakaan yang sudah dibuat. Hingga pada akhirnya, pernyataan “pustakawan ialah jantung perpustakaan", cocok untuk disematkan.

Tambahan, jika sekolah belum memiliki pustakawan, maka perlu dibuatkan diskusi khusus mengenai kreativitas manajemen perpustakaan bersama seluruh tim guru maupun karyawan yang selanjutnya ada pembagian penugasan.

Koleksi Buku
Ketersediaan buku di perpustakaan dapat mengacu pada Klasifikasi Persepuluh Dewey/Dewey Decimal Clasification. Namun bagi perpustakaan sekolah/madrasah yang baru saja merintis dapat menyediakan buku dengan skala prioritas sesuai dengan tingkat kebutuhan buku jenjang pendidikan. 

Selain itu, dapat pula mengumpulkan buku dari para alumni, siswa, orangtua/wali, bahkan masyarakat setempat sehingga minat baca warga sekolah tetap dapat tersalurkan. Sebagai contoh, gambar di bawah ini merupakan kontribusi peningkatan perpustakaan dari alumni sekolah dampingan SLI KP SDN Giripeni. 
Sumbangan buku (kedua kalinya) untuk SDN Giripeni
dari bapak Paiman (alumni SDN Giripeni angkatan '85) 
Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan pada rahasia peningkatan kualitas sekolah ala SLI KP, sekolah perlu melibatkan segenap stakeholder untuk melakukan diskusi perencanaan strategi sekolah. Oleh karenanya, implementasi program akan berjalan lebih mudah.

Administrasi Perpustakaan
Administrasi perpustakaan menjadi kebutuhan penting. Sebagaimanapun penuhnya perpustakaan dengan koleksi buku, memiliki pustakawan, namun perpustakaan akan lekas “roboh” karena pengelolaan yang belum baik. Administrasi perpustakaan ini mencakup stempel inventaris, stempel buku, pencatatan ke buku induk, penjenjangan buku, pengklasifikasian buku, pelabelan dan kartu buku, serta display buku.

Tata Tertib Perpustakaan
Tata tertib ini dibuat untuk menjamin setiap pemustaka memperoleh hak yang sama, menjaga keamanan, dan kelestarian sarana prasarana perpustakaan. Tata tertib tidak hanya dibuat oleh pustakawan saja, tetapi kepala sekolah, para guru, dan karyawan juga memberikan pendapat. Dengan demikian tertibnya perpustakaan dan pemustaka menjadi tanggungjawab bersama.

Kegiatan Literasi
Fun Reading Activities (FRA) yang disebutkan di bagian depan menjadi salah satu kegiatan literasi, baik di perpustakaan, kelas, maupun tempat lainnya. Literasi menurut KBBI merupakan kemampuan menulis dan membaca. Akan tetapi sejauh pemahaman penulis, literasi bermakna sangat luas. Literasi dapat diartikan sebagai seperangkat kemampuan seseorang untuk memahami bacaan, menulis, berbicara, bahkan melakukan  analisis, mengambil kesimpulan, sekaligus mengkritisi yang ia alami. 

Kegiatan literasi dapat mengaktifkan perpustakaan sebagai tempat nyaman dan menyenangkan untuk dikunjungi. Selama ini, perpustakaan sepi karena memang hanya sebatas bangunan yang berisi buku. Jadi, mari hidupkan perpustakaan dengan berbagai kegiatan literasi. Beberapa kegiatan literasi yang dapat dijadikan program perpustakaan yaitu FRA, ruang inspirasi, diskusi produktif, biblioterapi, nonton film bareng, sharing buku, relawan perpustakaan, duta literasi, lomba menulis, dan lain-lain. Selanjutnya, kita akan mengkhususkan pembahasan pada FRA.

Fun Reading Activity (FRA)
FRA merupakan serangkaian aktivitas membaca yang menyenangkan. FRA terdiri dari membaca lantang, membaca bersama, membaca berpasangan, dan membaca mandiri. Aktor utama (terutama pada aktivitas membaca lantang dan membaca bersama) ialah guru, pustakawan, bahkan orangtua/wali siswa sebagai pencerita. Siswa bertindak sebagai peserta aktif-interaktif. Di dalam aktivitas ini, seorang pencerita perlu melakukan latihan olah vokal, olah gerak, dan olah ekspresi sehingga pada saat tampil di hadapan para siswa, pencerita memiliki kesiapan penyampaian cerita secara menyenangkan. 
KAWAN SLI dan peserta bersiap untuk masuk pada sesi olah vokal, olah gerak, dan olah ekspresi 
 Setelah mengetahui tahapan-tahapan dalam membaca, selanjutnya para peserta berlatih di kelompok kecil dengan penuh semangat. 
Peserta melakukan praktik FRA di kelompok kecil dengan penuh semangat.
Empat guru dalam foto berperan sebagai siswa.
Tata Ruang
Perpustakaan dapat didirikan pada lokasi yang mudah dijangkau oleh warga sekolah, misalnya di samping halaman/bagian halaman depan. Pengelolaan tata ruang perpustakaan bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi pemustaka. Rak buku dan display buku perlu disusun dengan sesuai, agar pemustaka dapat menjangkau kebutuhannya dengan mudah. Tata letak rak buku juga perlu mempertimbangkan arah cahaya dan sirkulasi udara agar kelembaban ruang terjaga. Penggunaan warna furniture dan ruangan bisa dengan warna yang cerah. Tempat duduk pemustaka maupun pustakawan bisa didesain sedemikian rupa, misalnya lesehan atau dengan kursi. Hal tersebut disesuaikan dengan ukuran bangunan perpustakaan.

Bahan Kaya Bacaan
Bahan kaya bacaan dapat dimaksudkan sebagai aksesoris perpustakaan yang mengandung literasi. Akseoris ini menjadi lebih bermakna ketika dibuat bersama-sama antara pustakawan, pendamping siswa, dan siswa. Aktivitas tersebut dapat meningkatkan kepedulian antar sesama, kerjasama, kreativitas, dll. Bahan kaya bacaan dapat dibuat dengan menggunakan alat dan bahan sederhana yang mudah dijangkau di sekitar kita. 

Penulis akan mencontohkan bahan kaya bacaan misalnya menggambar dan mewarnai macam-macam buah atau hewan yang dibuat dari kertas bekas dan kardus, lalu siswa akan menulis nama buah atau hewan tersebut di dalam gambar. Di belakang gambar dapat diisi profil siswa. Setelah itu gantung dengan tali rafia, ikat dan pajang di dinding kosong. Setelah satu bulan dapat diturunkan untuk dikembalikan pada siswa dan diganti lagi dengan tema baru. Contoh pada gambar berikut ini:
Contoh bahan kaya bacaan tergantung 

di perpustakaan SDN Girisekar (Gunung Kidul, DIY)



Perpustakaan hanyalah alat harapan agar minat baca meningkat. 

Upaya kita ialah menjadikan alat ini lebih bermanfaat, 
menjangkau seluruh warga sekolah, 
memberi kesadaran bahwa jendela dunia terbuka dengan lapang dan sangat dekat. 
Manajemen perpustakaan yang baik dan mengaktifkannya dengan program kreatif 
menjadi upaya warga sekolah, bersama saling bahu-membahu mewujudkan impian pendidikan.

Tulisan ini merupakan tulisan yang dikembangkan dari berita yang telah ditayangkan di:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kami

PROGRAM SEKOLAH LITERASI INDONESIA KULON PROGO Sekolah Literasi Indonesia KulonProgo (SLI KP) merupakan salah satu program dari Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang bertujuan untuk: Mewujudkan model sekolah berkualitas. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah berbasis literasi. Bentuk program SLI berupa pelatihan dan pendampingan kepada kepala sekolah dan guru secara terstruktur, berkala dan berkesinambungan sampai tahap implementasi praktis di sekolah. Untuk mendukung hal tersebut, SLI mengirimkan 2 orang Konsultan Relawan (KAWAN) SLI di wilayah Kulon Progo (Irfa Ramadhani & Wahyu Widiyawati). Selain 2 KAWAN di Kulon Progo, pada SLI angkatan 3 ini, Dompet Dhuafa Pendidikan mengirimkan 12 KAWAN lainnya ke 4 wilayah Indonesia berbeda. Wilayah tersebut antara lain Semarang, Jawa Tengah; Asahan, Medan; Bima, NTB; dan Halmahera Selatan, Maluku Utara. Masing-ma...