Oleh: Irfa Ramadhani
Tulisan ini telah tayang di:
https://pendidikan.kulonprogokab.go.id/detil/1130/pelatihan-penguatan-visi-untuk-sekolah-dampingan-sli (13 Februari 2020)
Apa saja masalah
penting yang terjadi dalam organisasi terkait pernyataan visi? Lenin (2000)
dalam Srinivasan (2014) menyebutkan setidaknya ada 3 masalah penting. Pertama,
banyak orang menganggap bahwa visi hanya sebatas kata-kata yang dibuat oleh tim
manajemen. Kedua, pernyataan visi dianggap terlalu umum dan sangat mungkin
digunakan oleh organisasi lain. Ketiga, inti dari visi dinilai kabur karena
ringkasnya pernyataan visi.
Padahal,
pernyataan visi merupakan identitas awal suatu organisasi. Ia merupakan
indikator pengukuran performa organisasi dalam mencapai tujuan. Ia merupakan
pedoman ketika organisasi hendak melakukan perubahan. Ia menjadi dasar ketika
organisasi melakukan perumusan perencanaan.
Untuk itu, sejatinya Visi dapat
dijadikan sebagai motivasi untuk setiap warga organisasi.
Nyatanya,
pemahaman mengenai visi ini masih menjadi PR kita bersama. Khususnya PR dalam
dunia pendidikan, yang bergulat dengan kumpulan manusia dan pengetahuan.
Oleh karena itu,
hal ini menjadi salah satu target perhatian Dompet Dhuafa Pendidikan bersama
Dompet Dhuafa Yogyakarta melalui salah satu programnya, Sekolah Literasi
Indonesia (SLI). Selasa (11/2), Konsultan Relawan (KAWAN) SLI memberikan
pelatihan lanjutan kepada 7 sekolah dan 3 madrasah dampingan program SLI Kulon
Progo.
Pelatihan yang terlaksana di MI Muhammadiyah Kenteng (dengan dihadiri 10 kepala sekolah/madrasah dan 20 perwakilan guru) ini mengenai "Rencana Strategik Sekolah/Madrasah". Pelatihan juga sebagai bentuk penguatan dari praktik School Strategic Discussion (SSD) yang telah
dilaksanakan sebelumnya di masing-masing sekolah/madrasah dampingan.
Disamping itu, guna
memperkuat dan mempermudah implementasi rencana strategik sekolah/madrasah,
materi "Nilai dan Keyakinan Sekolah/Madrasah" menjadi materi selanjutnya yang
disampaikan oleh KAWAN Wahyu Widiyawati.
Implementasi
perumusan konsep ini tentu bukanlah hal mudah. Menanamkan nilai urgensi, menampung
berbagai aspirasi, berdamai dengan situasi dan kondisi (terutama para pendidik)
yang seringkali menggelitik emosi, alhasil konsep seringkali dirasa tercukupi.
Tidak apa-apa, yang penting beraksi. Inilah paradigma yang perlu kita ubah dan
tindaklanjuti.
Saling
mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, terbuka dengan perubahan, dan
semangat untuk terus menjadi pembelajar, merupakan kunci perjuangan.
Jikalah setiap elemen pendidikan telah secara sadar dan bersama-sama dalam merumuskan visi institusi, serta memahami urgensi, penyampaian berbagai kontribusi dan prestasi menjadi pemandangan yang akan sangat indah untuk kita nanti.
https://pendidikan.kulonprogokab.go.id/detil/1130/pelatihan-penguatan-visi-untuk-sekolah-dampingan-sli (13 Februari 2020)


Komentar
Posting Komentar