Langsung ke konten utama

Tidak bingung lagi mendampingi Anak: Yuk Bermain sambil Belajar!

Oleh: Irfa Ramadhani
Bapak Ibu guru, ayah bunda, dan kakak hebat, pernahkah mengalami kesulitan mengondisikan anak-anak belajar? Apalagi saat ini sedang WFH. Mungkin ada yang merasakan jam dinding seakan bergerak begitu lamban. Mungkin ada yang bingung untuk melakukan ragam kegiatan bersama anak dirumah. Mungkin juga ada yang menahan rasa gemas ketika melihat anak sibuk dengan kegiatan asyiknya (terutama asyik dengan hapeee).  Bagaimana solusinya?

Yuk simak catatan pelatihan tim Sekolah Literasi Indonesia Kulon Progo (SLI KP) pada pelatihan Fun Literacy Activity (FLA) berikut ini!
FLA merupakan kegiatan yang mengandung unsur literasi, terkonsep dalam suatu permainan, dapat pula digunakan dalam media pembelajaran. 
Melalui konsep ini, pendidik dapat lebih mudah menyampaikan materi pembelajaran. Bagaimana tidak? Anak akan kita ajak main-main. Mereka diajak terlibat aktif dalam aktivitas literasi yang menyenangkan.

Selain interaktif dan atraktif, penyampaian pembelajaran melalui permainan ini juga tidak memerlukan biaya banyak. Pendidik sangat bisa memanfaatkan barang-barang yang tersedia di rumah atau di sekolah.
LANGKAH-LANGKAH FLA
Untuk menggunakan konsep FLA, kita perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini:
A. Menentukan tujuan pembelajaran
B. Mencari referensi bahan pembelajaran
C. Menyusun konsep FLA (menentukan/menyusun konsep permainan literasi yang akan dilakukan)
D. Mengaplikasikan materi pembelajaran ke dalam konsep FLA (menerapkan materi pembelajaran ke dalam bentuk permainan)

CONTOH FLA
Sebagai contoh, pada saat pelatihan FLA SLI KP, KAWAN SLI memberikan 4 jenis FLA. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada hari Selasa (10/3) pukul 10.00 hingga 14.30 yang bertempat di salah satu rumah makan daerah Wates Kulon Progo. Tiga permainan dicontohkan dan dipraktikkan dalam ruangan (puppet, bunga berkata, dan walking story). Sementara itu, 1 permainan dilaksanakan di luar ruangan (bantal berputar).

WALKING STORY
Contoh FLA walking story dapat dilihat pada gambar berikut ini. 
Foto diambil dari salah satu kuliah online Dompet Dhuafa Pendidikan
(foto FLA lebih representatif)

Langkah-langkah penggunaan FLA Walking Story (1-10 anak, tergantung cabang pohonnya):

A. Tujuan Pembelajaran: mengasah kemampuan berbicara, memperbanyak kosa kata, serta kepercayaan diri anak dalam bercerita

B. Referensi Bahan Pembelajaran: www.sekolahliterasikulonprogo.blogspot.com, maupun sumber lainnya.

C. Konsep FLA:
1. Pendidik mengajak anak membentuk lintasan serupa pohon (bisa sesuai selera).
2. Pendidikan mengajak anak meletakkan barang di setiap cabang yang ada. 
3. Salah satu anak (jika anaknya lebih dari satu) berada di titik start lintasan. 
4. Opsional: Anak yang lain berada di garis finish dan di samping kanan maupun kiri lintasan.
5. Anak yang berada di tempat start akan menceritakan imajinasinya terhadap benda yang ada di setiap cabang lintasan. 
6. Opsional: Anak lainnya bertugas mencatat setiap cerita/kata yang disampaikan oleh anak yang bercerita.
7. Opsional: Setiap anak mempresentasikan cerita yang telah mereka tuliskan.
8. Pendidik melakukan evaluasi. 

D. Mengaplikasikan materi pembelajaran ke dalam konsep FLA.

Bagaimana bapak ibu guru, ayah bunda dan kakak hebat? Apakah sudah terbayangkan? 

PUPPET DAN BUNGA BERKATA
Untuk puppet dan bunga berkata, tidak banyak teknis yang dipaparkan. Singkatnya, puppet atau boneka wayang merupakan media pembelajaran yang dibuat dari kertas (pakai kertas bekas lebih yahuut), diwarnai, kemudian dijadikan sebagai tokoh dalam bercerita.
Seorang siswa menunjukkan puppet karakter doraemon 

Misalnya, beberapa guru (pada gambar pertama tulisan ini) menunjukkan karyanya (ada tokoh larva, patrick, dll). Penggunaannya fleksibel. Bisa jadi pendidik yang menggunakan media tersebut untuk mendongeng, atau media digunakan langsung oleh anak bersama teman-temannya dalam melakukan adegan cerita.

Sementara itu, media bunga berkata seperti yang ditunjukkan kepala sekolah berkerudung pink (pada gambar pertama tulisan). Media ini terdiri dari 5 huruf yang tertulis pada kelopak bunga, B.A.K.M.I. Anak-anak bisa diajak untuk mencari kata lain dari kombinasi kelima huruf tersebut (misal: kami). Minimal komposisi kata terdiri dari 3 huruf yang ada (misal: bak).

Level selanjutnya dari bunga berkata, anak bisa diajak untuk mengembangkan kata yang ditemukan menjadi sebuah kalimat. Jika level sudah bisa naik, maka anak-anak dapat diarahkan juga untuk merangkainya menjadi sebuah paragraf kemudian menjadi suatu cerita.

BANTAL BERPUTAR
Bantal berputar dapat dilakukan di luar maupun di dalam ruangan (pada ruangan yang cukup lapang). 

Saat itu, kami belum menamakan secara serempak nama permainannya apa, kita sebut saja Bantal Berputar (permainan ini terinspirasi dari salah satu tontonan youtube, mohon maaf lupa menyimpan linknya).
Kepala sekolah dan guru sedang melakukan praktik FLA "Bantal Berputar"
Langkah-langkah penggunaan FLA Bantal Berputar (3-16 pemain):

A. Tujuan Pembelajaran: Anak mampu mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya. (Bisa dikembangkan menggunakan tujuan pembelajaran yang lain)

B. Referensi Bahan Pembelajaran: www.sekolahliterasikulonprogo.blogspot.com, maupun sumber lainnya.

C. Konsep FLA:
1. Pendidik mempersiapkan keperluan FLA: gambar-gambar hewan (misal: 5 gambar hewan pemakan daging, 5 pemakan daun, dan 5 pemakan daun dan daging), tali rafia (ukuran sekitar 2 meter), serta bantal kecil.
2. Satu ujung tali rafia diikat ke bantal kecil, ujung lainnya dibiarkan.
3. Pendidik telah membagi anak menjadi 3 kelompok, dengan nama kelompok herbivora, karnivora, dan omnivora. Sisakan 1 anak untuk berperan sebagai 'pemutar bantal'. Atau jika pemain hanya ada 3 orang, 1 orang menjadi pemutar bantal, 2 orang lainnya menjadi pengumpul gambar herbivora atau omnivora saja. 
4. Pemutar-bantal berada di tengah lapangan/ruangan.
5. Simpan gambar-gambar hewan secara acak di tengah lapangan/ruangan, berdekatan dengan anak-pemutar-bantal.
6. Pemutar-bantal mengayunkan ujung tali rafia, sehingga ia menjadi poros bantal berputar.
7. Tiga kelompok berada di luar ayunan bantal dan siap-siap untuk berlomba mengeluarkan gambar hewan sesuai dengan nama kelompoknya (di luar lingkaran-bantal-berputar). 
8. Permainan dimulai. Masing-masing anggota kelompok bergantian masuk ke dalam lingkaran-bantal-berputar untuk mengambil gambar hewan sesuai dengan nama masing-masing kelompoknya. (jika pemainnya hanya bertiga, maka 2 orang pemain bolak-balik membawa satu persatu hewan, sesuai dengan jenis makanannya masing-masing)
9.  Kelompok (pemain) yang tercepat mengumpulkan 5 jenis hewan sesuai dengan nama kelompoknya menjadi pemenang.

Itu dia contoh-contoh FLA yang kami lakukan saat pelatihan. Pada sesi akhir pelatihan, para peserta diarahkan untuk membuat permainan FLA dengan barang-barang yang ada. Saat ini giliran Anda. :-) 
Foto bersama akhir pelatihan FLA
Sebagai tambahan, permainan-permainan tradisional lain juga sangat bisa dimasukkan unsur literasi, asalkan sebelumnya kita telah menentukan tujuan pembelajaran dan referensi bahan pembelajaran.

Semoga pandemi covid-19 segera berlalu dan semoga sedikit catatan ini dapat lebih memudahkan bapak/ibu/ayah/bunda/kakak semua dalam mendampingi anak di rumah maupun di sekolah (nanti). 

Jika berkenan, bapak/ibu/ayah/bunda/kakak dapat mengirimkan praktik FLA yang telah dilakukan, ke alamat email slikulonprogo@gmail.com.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kami

PROGRAM SEKOLAH LITERASI INDONESIA KULON PROGO Sekolah Literasi Indonesia KulonProgo (SLI KP) merupakan salah satu program dari Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang bertujuan untuk: Mewujudkan model sekolah berkualitas. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah berbasis literasi. Bentuk program SLI berupa pelatihan dan pendampingan kepada kepala sekolah dan guru secara terstruktur, berkala dan berkesinambungan sampai tahap implementasi praktis di sekolah. Untuk mendukung hal tersebut, SLI mengirimkan 2 orang Konsultan Relawan (KAWAN) SLI di wilayah Kulon Progo (Irfa Ramadhani & Wahyu Widiyawati). Selain 2 KAWAN di Kulon Progo, pada SLI angkatan 3 ini, Dompet Dhuafa Pendidikan mengirimkan 12 KAWAN lainnya ke 4 wilayah Indonesia berbeda. Wilayah tersebut antara lain Semarang, Jawa Tengah; Asahan, Medan; Bima, NTB; dan Halmahera Selatan, Maluku Utara. Masing-ma...