Oleh: Irfa Ramadhani
CONTOH FLA
PUPPET DAN BUNGA BERKATA
Untuk puppet dan bunga berkata, tidak banyak teknis yang dipaparkan. Singkatnya, puppet atau boneka wayang merupakan media pembelajaran yang dibuat dari kertas (pakai kertas bekas lebih yahuut), diwarnai, kemudian dijadikan sebagai tokoh dalam bercerita.
Misalnya, beberapa guru (pada gambar pertama tulisan ini) menunjukkan karyanya (ada tokoh larva, patrick, dll). Penggunaannya fleksibel. Bisa jadi pendidik yang menggunakan media tersebut untuk mendongeng, atau media digunakan langsung oleh anak bersama teman-temannya dalam melakukan adegan cerita.
Sementara itu, media bunga berkata seperti yang ditunjukkan kepala sekolah berkerudung pink (pada gambar pertama tulisan). Media ini terdiri dari 5 huruf yang tertulis pada kelopak bunga, B.A.K.M.I. Anak-anak bisa diajak untuk mencari kata lain dari kombinasi kelima huruf tersebut (misal: kami). Minimal komposisi kata terdiri dari 3 huruf yang ada (misal: bak).
Level selanjutnya dari bunga berkata, anak bisa diajak untuk mengembangkan kata yang ditemukan menjadi sebuah kalimat. Jika level sudah bisa naik, maka anak-anak dapat diarahkan juga untuk merangkainya menjadi sebuah paragraf kemudian menjadi suatu cerita.
Bapak Ibu guru, ayah bunda, dan kakak hebat,
pernahkah mengalami kesulitan mengondisikan anak-anak belajar? Apalagi saat
ini sedang WFH. Mungkin ada yang merasakan jam dinding seakan bergerak begitu
lamban. Mungkin ada yang bingung untuk melakukan ragam kegiatan bersama
anak dirumah. Mungkin juga ada yang menahan rasa gemas ketika melihat
anak sibuk dengan kegiatan asyiknya (terutama asyik dengan hapeee).
Bagaimana solusinya?
Yuk simak catatan pelatihan tim Sekolah
Literasi Indonesia Kulon Progo (SLI KP) pada pelatihan Fun Literacy Activity
(FLA) berikut ini!
FLA merupakan kegiatan yang mengandung unsur literasi, terkonsep dalam suatu permainan, dapat pula digunakan dalam media pembelajaran.Melalui konsep ini, pendidik dapat lebih mudah menyampaikan materi pembelajaran. Bagaimana tidak? Anak akan kita ajak main-main. Mereka diajak terlibat aktif dalam aktivitas literasi yang menyenangkan.
Selain interaktif dan atraktif,
penyampaian pembelajaran melalui permainan ini juga tidak memerlukan biaya banyak. Pendidik sangat bisa memanfaatkan barang-barang yang tersedia di rumah atau di sekolah.
LANGKAH-LANGKAH FLA
Untuk menggunakan konsep FLA, kita perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini:
Untuk menggunakan konsep FLA, kita perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini:
A. Menentukan tujuan pembelajaran
B. Mencari referensi bahan pembelajaran
C. Menyusun konsep FLA
(menentukan/menyusun konsep permainan literasi yang akan dilakukan)
D. Mengaplikasikan materi pembelajaran ke
dalam konsep FLA (menerapkan materi pembelajaran ke dalam bentuk permainan)
CONTOH FLA
Sebagai contoh, pada saat pelatihan FLA SLI
KP, KAWAN SLI memberikan 4 jenis FLA. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada hari
Selasa (10/3) pukul 10.00 hingga 14.30 yang bertempat di salah satu rumah makan
daerah Wates Kulon Progo. Tiga permainan dicontohkan dan dipraktikkan dalam
ruangan (puppet, bunga berkata, dan walking story). Sementara itu, 1 permainan dilaksanakan di luar ruangan (bantal berputar).
WALKING STORY
Contoh FLA walking story dapat dilihat pada gambar berikut ini.
![]() |
| Foto diambil dari salah satu kuliah online Dompet Dhuafa Pendidikan (foto FLA lebih representatif) |
Langkah-langkah penggunaan FLA Walking
Story (1-10 anak, tergantung cabang pohonnya):
A. Tujuan Pembelajaran: mengasah kemampuan
berbicara, memperbanyak kosa kata, serta kepercayaan diri anak dalam bercerita
B. Referensi Bahan Pembelajaran:
www.sekolahliterasikulonprogo.blogspot.com, maupun sumber lainnya.
C. Konsep FLA:
1. Pendidik mengajak anak membentuk
lintasan serupa pohon (bisa sesuai selera).
2. Pendidikan mengajak anak meletakkan
barang di setiap cabang yang ada.
3. Salah satu anak (jika anaknya lebih
dari satu) berada di titik start lintasan.
4. Opsional: Anak yang lain berada di
garis finish dan di samping kanan maupun kiri lintasan.
5. Anak yang berada di tempat start akan
menceritakan imajinasinya terhadap benda yang ada di setiap cabang
lintasan.
6. Opsional: Anak lainnya bertugas
mencatat setiap cerita/kata yang disampaikan oleh anak yang bercerita.
7. Opsional: Setiap anak mempresentasikan
cerita yang telah mereka tuliskan.
8. Pendidik melakukan evaluasi.
D. Mengaplikasikan materi pembelajaran ke
dalam konsep FLA.
Bagaimana bapak ibu guru, ayah bunda dan kakak hebat? Apakah sudah terbayangkan?
PUPPET DAN BUNGA BERKATA
Untuk puppet dan bunga berkata, tidak banyak teknis yang dipaparkan. Singkatnya, puppet atau boneka wayang merupakan media pembelajaran yang dibuat dari kertas (pakai kertas bekas lebih yahuut), diwarnai, kemudian dijadikan sebagai tokoh dalam bercerita.
![]() |
| Seorang siswa menunjukkan puppet karakter doraemon |
Misalnya, beberapa guru (pada gambar pertama tulisan ini) menunjukkan karyanya (ada tokoh larva, patrick, dll). Penggunaannya fleksibel. Bisa jadi pendidik yang menggunakan media tersebut untuk mendongeng, atau media digunakan langsung oleh anak bersama teman-temannya dalam melakukan adegan cerita.
Sementara itu, media bunga berkata seperti yang ditunjukkan kepala sekolah berkerudung pink (pada gambar pertama tulisan). Media ini terdiri dari 5 huruf yang tertulis pada kelopak bunga, B.A.K.M.I. Anak-anak bisa diajak untuk mencari kata lain dari kombinasi kelima huruf tersebut (misal: kami). Minimal komposisi kata terdiri dari 3 huruf yang ada (misal: bak).
Level selanjutnya dari bunga berkata, anak bisa diajak untuk mengembangkan kata yang ditemukan menjadi sebuah kalimat. Jika level sudah bisa naik, maka anak-anak dapat diarahkan juga untuk merangkainya menjadi sebuah paragraf kemudian menjadi suatu cerita.
BANTAL BERPUTAR
Bantal berputar dapat dilakukan di luar maupun di dalam ruangan (pada ruangan yang cukup lapang).
Saat itu, kami belum menamakan secara
serempak nama permainannya apa, kita sebut saja Bantal Berputar (permainan ini
terinspirasi dari salah satu tontonan youtube, mohon maaf lupa menyimpan linknya).
![]() |
| Kepala sekolah dan guru sedang melakukan praktik FLA "Bantal Berputar" |
Langkah-langkah penggunaan FLA Bantal
Berputar (3-16 pemain):
A. Tujuan Pembelajaran: Anak mampu
mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya. (Bisa dikembangkan menggunakan tujuan pembelajaran yang lain)
B. Referensi Bahan Pembelajaran:
www.sekolahliterasikulonprogo.blogspot.com, maupun sumber lainnya.
C. Konsep FLA:
1. Pendidik mempersiapkan keperluan
FLA: gambar-gambar hewan (misal: 5 gambar hewan pemakan daging, 5 pemakan
daun, dan 5 pemakan daun dan daging), tali rafia (ukuran sekitar 2 meter),
serta bantal kecil.
2. Satu ujung tali rafia diikat ke
bantal kecil, ujung lainnya dibiarkan.
3. Pendidik telah membagi anak menjadi 3
kelompok, dengan nama kelompok herbivora, karnivora, dan omnivora. Sisakan 1
anak untuk berperan sebagai 'pemutar bantal'. Atau jika pemain hanya ada
3 orang, 1 orang menjadi pemutar bantal, 2 orang lainnya menjadi pengumpul
gambar herbivora atau omnivora saja.
4. Pemutar-bantal berada di tengah
lapangan/ruangan.
5. Simpan gambar-gambar hewan secara acak
di tengah lapangan/ruangan, berdekatan dengan anak-pemutar-bantal.
6. Pemutar-bantal mengayunkan ujung
tali rafia, sehingga ia menjadi poros bantal berputar.
7. Tiga kelompok berada di luar ayunan
bantal dan siap-siap untuk berlomba mengeluarkan gambar hewan sesuai dengan
nama kelompoknya (di luar lingkaran-bantal-berputar).
8. Permainan dimulai. Masing-masing
anggota kelompok bergantian masuk ke dalam lingkaran-bantal-berputar untuk
mengambil gambar hewan sesuai dengan nama masing-masing kelompoknya. (jika
pemainnya hanya bertiga, maka 2 orang pemain bolak-balik membawa satu persatu
hewan, sesuai dengan jenis makanannya masing-masing)
9. Kelompok (pemain) yang tercepat mengumpulkan 5 jenis hewan sesuai dengan nama
kelompoknya menjadi pemenang.
Itu dia contoh-contoh FLA yang kami lakukan
saat pelatihan. Pada sesi akhir pelatihan, para peserta diarahkan untuk membuat
permainan FLA dengan barang-barang yang ada. Saat ini giliran Anda. :-)
Sebagai tambahan, permainan-permainan
tradisional lain juga sangat bisa dimasukkan unsur literasi, asalkan sebelumnya
kita telah menentukan tujuan pembelajaran dan referensi bahan pembelajaran.
![]() |
| Foto bersama akhir pelatihan FLA |
Semoga pandemi covid-19 segera berlalu dan
semoga sedikit catatan ini dapat lebih memudahkan bapak/ibu/ayah/bunda/kakak semua dalam mendampingi
anak di rumah maupun di sekolah (nanti).
Jika berkenan, bapak/ibu/ayah/bunda/kakak dapat mengirimkan praktik FLA yang telah dilakukan, ke alamat email slikulonprogo@gmail.com.
Jika berkenan, bapak/ibu/ayah/bunda/kakak dapat mengirimkan praktik FLA yang telah dilakukan, ke alamat email slikulonprogo@gmail.com.
Terima kasih. Selamat berkreasi dan salam
literasi.
Tulisan ini telah dikembangkan dari berita yang telah tayang di:
https://pendidikan.kulonprogokab.go.id/detil/1149/kesulitan-mengkondisikan-siswa-siswi-belajar-kawan-sli-bagikan-triknya (14 Maret 2020)
http://www.makmalpendidikan.net/kawan-sli-cara-jitu-mengkondisikan-siswa-yang-kesulitan-belajar-bisa-makmalian-cek-di-sini/ (17 Maret 2020)
http://znews.id/2020/03/17/cara-jitu-mengatasi-siswa-yang-kesulitan-belajar/ (17 Maret 2020)
*mengondisikan
Tulisan ini telah dikembangkan dari berita yang telah tayang di:
https://pendidikan.kulonprogokab.go.id/detil/1149/kesulitan-mengkondisikan-siswa-siswi-belajar-kawan-sli-bagikan-triknya (14 Maret 2020)
http://www.makmalpendidikan.net/kawan-sli-cara-jitu-mengkondisikan-siswa-yang-kesulitan-belajar-bisa-makmalian-cek-di-sini/ (17 Maret 2020)
http://znews.id/2020/03/17/cara-jitu-mengatasi-siswa-yang-kesulitan-belajar/ (17 Maret 2020)
*mengondisikan





Komentar
Posting Komentar