Langsung ke konten utama

Cara Jitu mengantarkan Guru lebih Bermutu

Oleh: Irfa Ramadhani
Kepala sekolah sedang melakukan praktik coaching

Memiliki tim yang bermutu tentu merupakan harapan setiap pemimpin. Bermutu dalam hal komunikasi dan koordinasi, hingga pada tahapan kinerja maupun refleksi. Sebesar apapun keinginan pemimpin untuk meningkatkan organisasi, hal itu akan menjadi bayang-bayang semu jika tidak diiringi oleh tim yang bermutu.

Begitu pula untuk meningkatkan performa suatu sekolah. Kepala sekolah memerlukan tim guru yang bermutu. Sebagaimana kutipan dari lppks.kemendikbud.go.id, bahwa kepemimpinan pendidikan merupakan proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi dan mengarahkan orang-orang dilembaga pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. 
Salah satu kepala sekolah sedang memimpin sesi ice breaking pelatihan "Coaching for Teacher"
Pertanyaannya, bagaimana mengantarkan para guru menjadi lebih bermutu? Bagaimana mengantarkan para guru sehingga mereka berkenan untuk digerakkan, dipengaruhi, diberikan motivasi serta diarahkan? Salah satu jawabannya yaitu melalui teknik coaching.

Mungkin sudah banyak yang familiar dengan kata tersebut, namun adapula yang pertama kali mendengar, sebagaimana para 10 kepala sekolah/madrasah dampingan yang baru pertama kali mendapatkan materi coaching.

Pelatihan berjudul “Coaching for Teacher” ini dilaksanakan pada hari Selasa (18/2) di SD Muhammadiyah Sidowayah (Pengasih, Kulon Progo, DI Yogyakarta) sekitar pukul 09.00 hingga 14.00. Berikut ini penulis sampaikan sedikit materi pelatihan yang diberikan Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) kepada 10 kepala sekolah/madrasah dampingan program SLI.

Sebelum membahas konsep coaching, pelatihan menyertakan tambahan definisi 3 konsep lain. Konsep-konsep tersebut memiliki kesamaan untuk dapat mengantarkan klien (dalam hal ini guru) sehingga melakukan kinerja yang lebih baik. Perbedaannya terletak pada kondisi, waktu penggunaan, serta fokus bahasan.

TRAINING, MENTORING, KONSELING, DAN COACHING

TRAINING: Proses transfer skill/pengetahuan kepada peserta training. Training ini diberikan kepada guru untuk memberikan pengalaman baru (misal, kepala sekolah memberikan pelatihan mengenai penggunaan RPP satu lembar kepada seluruh guru). Dalam hal ini kepala sekolah berperan sebagai trainer dan guru sebagai trainee.

MENTORING: Proses berbagi pengalaman dan pengetahuan dari seorang yang sudah berpengalaman kepada seseorang yang ingin belajar di bidang tersebut. Sama halnya dengan training yang diberikan oleh orang yang lebih memahami materi, mentoring juga demikian, namun sifatnya lebih detail lagi (misal: seorang kepala sekolah memberikan pendampingan kepada gurunya untuk mencapai targetnya, menjadi guru prestatif). Ketika memberikan pendampingan ini, kepala sekolah berperan sebagai mentor, dan guru sebagai mentee.

KONSELING: Proses membantu seseorang untuk menyadari perilaku dan sikapnya yang menghambat atau menimbulkan masalah. Misal, ketika kepala sekolah menemukan gurunya memiliki permasalahan pribadi maupun keluarga (yang memengaruhi penurunan kinerja di sekolah), maka (jika kepala sekolah mampu) kepala sekolah dapat mengambil peran sebagai konselor, memberikan bimbingan konseling kepada gurunya (klien). 

COACHING: International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan bersama orang lain untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses kreatif dan saling berbagi.

Definisi sederhana lain yaitu, coaching merupakan proses membantu membuka kunci potensi seseorang untuk mencapai goal-nya.  

Konsep ini yang menjadi bahasan detail pelatihan SLI KP. Sehingga,  kepala sekolah lebih mudah melakukan perbaikan sekolah. Mengapa demikian? Karena para guru berkenan untuk digerakkan, dipengaruhi, diberikan motivasi serta diarahkan (bukan karena saran dari kepala sekolah/madrasah, melainkan solusi tersebut muncul dari pribadi gurunya sendiri, melalui proses kreatif dan saling berbagi) 

Untuk mencapai itu, ada 11 kompetensi inti coaching (sumber: ICF) yang perlu dipelajari oleh kepala sekolah, yaitu:

1.       Mengikuti pedoman etika dan standar profesional
2.       Membuat perjanjian coaching
3.       Membangun kepercayaan dan keakraban dengan coachee
4.       Kehadiran menyeluruh dalam coaching
5.       Mendengar untuk memahami
6.       Pertanyaan yang tepat
7.       Komunikasi langsung
8.       Menciptakan kesadaran
9.       Rencana aksi
1.       Perencanaan dan menetapkan tujuan
1.       Mengelola kemajuan dan akuntabilitas
1
Pada sesi akhir pelatihan, kepala sekolah/madrasah melakukan praktik coaching (gambar pertama). Selanjutnya, teknik coaching ini (salah satunya) akan diimplementasikan kepala sekolah/madrasah pada saat supervisi untuk dapat menggali potensi dan kemampuan masing-masing gurunya. Pada tahap awal, supervisi dengan teknik coaching akan didampingi oleh KAWAN SLI.
foto bersama 10 kepala sekolah/madrasah bersama 2 KAWAN SLI di akhir pelatihan "Coaching for Teacher" 
Tulisan ini merupakan tulisan yang dikembangkan dari berita yang telah ditayangkan di:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kami

PROGRAM SEKOLAH LITERASI INDONESIA KULON PROGO Sekolah Literasi Indonesia KulonProgo (SLI KP) merupakan salah satu program dari Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang bertujuan untuk: Mewujudkan model sekolah berkualitas. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah berbasis literasi. Bentuk program SLI berupa pelatihan dan pendampingan kepada kepala sekolah dan guru secara terstruktur, berkala dan berkesinambungan sampai tahap implementasi praktis di sekolah. Untuk mendukung hal tersebut, SLI mengirimkan 2 orang Konsultan Relawan (KAWAN) SLI di wilayah Kulon Progo (Irfa Ramadhani & Wahyu Widiyawati). Selain 2 KAWAN di Kulon Progo, pada SLI angkatan 3 ini, Dompet Dhuafa Pendidikan mengirimkan 12 KAWAN lainnya ke 4 wilayah Indonesia berbeda. Wilayah tersebut antara lain Semarang, Jawa Tengah; Asahan, Medan; Bima, NTB; dan Halmahera Selatan, Maluku Utara. Masing-ma...