Langsung ke konten utama

Hati-hati: "1000 Kebaikan" Mengular dengan Training Teknik ini

Oleh: Wahyu Widiyawati
Sumarsih, S.Pd.I, M.S.I (Kepala MI Muhammadiyah Serangrejo) melakukan praktik Training.

Bung Tomo, tokoh pahlawan kita telah berhasil mengumpulkan massa untuk turut berjuang melawan penjajah. Pikiran-pikiran
Bung Tomo selalu dipenuhi dengan ide untuk membuat perubahan demi kepentingan orang banyak. Dunia pendidikan membutuhkan sosok yang demikian. Pemimpin berpengaruh, tegas, inovatif, dan disenangi banyak orang akan membawa dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya. Baik itu di sekolah/madrasah, lembaga, maupun masyarakat.

Kita dapat membayangkan dan merasakan bila satu kata, ide, dan keteladanan baik yang dilisankan ataupun muncul melalui sikap para pemimpin akan mengular menjadi 1000 perubahan. Lalu, dapat kita rasakan 1000 perubahan itu mengalir lagi menjadi cabang-cabang kebaikan yang tidak kita duga. Ternyata sangat luas makna dan manfaatnya. Bagaimana bila itu terjadi pada kita?

Tidak perlu jauh-jauh dengan mencontohkan seorang pemimpin dalam suatu lembaga, sehingga nanti tidak akan timbul pengelakan karena kita belum berada di posisi itu. Tidak perlu berkata, “Saya kan bukan pemimpin, jadi tidak perlu bersikap demikian.”

Tidak perlu jauh-jauh, kita sesungguhnya ialah pemimpin sejati. Pemimpin bagi tubuh ini yang memandu jalannya langkah kaki, setiap pikiran dan hati, dan akan menentukan berakhirnya hidup dengan cara yang kita ikhtiarkan sesuai petunjuk Illahi.

Fitrah manusia dilahirkan dengan sisi terang, sedang kehidupan membawanya mengenal sisi gelap. Lalu bagaimana cara kita membawa tapak kaki agar tunduk pada kesejatian diri? Bagaimana membiakkan pikiran dan hati agar dipenuhi nyala hakiki yang terang benderang? Kata dan keteladanan ialah kuncinya. Kita akan tuangkan cara agar kata yang kita ucapkan didengar, dipahami, dan orang yang kita ajak bicara tergugah untuk melakukan.

Hal tersebut beriringan dengan pelatihan Training for Trainer (TFT) bagi  10 kepala sekolah/madrasah penerima manfaat Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Kulon Progo, program dari Dompet Dhuafa Pendidikan (DDP) dengan Dompet Dhuafa Yogyakarta (DDJ).

TFT merupakan serangkaian kegiatan untuk menempa peserta menjadi seorang trainer yang mampu memengaruhi orang lain untuk bergerak pada kebaikan.

Tujuan pelatihan ini agar peserta pelatihan dapat:
1.      memahami hakikat public speaking,
2.      memahami dan menguasai tips sukses menjadi trainer/public speaker, serta
3.      memahami dan menguasai persiapan diri sebelum tampil di depan publik.

Kita berharap peserta pelatihan dapat menjadi pembicara handal yang mampu mengoptimalisasi ilmu pengetahuan, pengalaman, maupun keterampilannya dengan cara yang menggugah sehingga dapat memengaruhi dan mengajak para guru/karyawan, para siswa, dan orangtua/wali siswa menuju perubahan yang lebih baik lagi.

Pelatihan ini berupa materi dan praktik yang telah terlaksana pada Kamis, 5 Maret 2020 di SDN Karangwuni, Wates, Kulon Progo.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang melakukan training (public speaking) yaitu persiapan dan pasca training, materi, serta delievery. Ketiganya perlu disampaikan dengan berani, sistematis, dan menggugah. Selain itu gerakan tubuh dan intonasi seorang trainer harus tepat dengan situasi yang ada. Sebelum menuju ke sana kita perlu mengetahui apa itu public speaking.

Public speaking merupakan semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) 
di depan orang banyak.

Barangkali bila kita tak terbiasa berada di hadapan banyak orang apalagi memegang mic akan merasa takut, malu, grogi, bingung, stres, dll. Ternyata perasaan demikian ialah hal yang wajar. Sebagai seorang pembicara/trainer kita perlu mengelola perasaan itu sendiri dan melakukan berbagai persiapan dengan matang.

3 HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN TRAINER
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh seorang trainer yaitu sebagai berikut.

PERTAMA, PELAKSANAAN TRAINING
Persiapan Training
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan seorang trainer ketika akan mengisi sebuah training yaitu:
1.      memastikan materi telah siap/lengkap,
2.      lokasi pelatihan jelas dan dapat dijangkau,
3.      memastikan kondisi ruangan,
4.      menyamakan pemahaman trainer dengan peserta pelatihan,
5.      mengirimkan keperluan training kepada panitia,
6.      menyiapkan penampilan diri dengan pakaian dan aksesoris yang wajar/tidak mencolok,
7.      memastikan imbal jasa jika perlu survey lokasi dan ruangan, serta
8.      datang lebih awal kurang lebih satu jam sebelum acara dimulai.

Pada saat Training
Selanjutnya ketika trainer sudah memulai training, yang perlu dilakukan dari awal sampai akhir yaitu:
1.      tetap menjaga kebugaran tubuh,
2.      melakukan proses training dengan tanggung jawab,
3.      selalu berpikir positif, dan
4.      siap mengelola materi training.

Pasca Training
Terakhir kegiatan pasca training, seorang trainer harus bisa:
1.      menjaga networking,
2.      sesekali menanyakan kabar peserta,
3.      senantiasa melayani pertanyaan dan konsultasi,
4.      membuat WA alumni (jika perlu), dan
5.      mengirimkan informasi/ materi relevan kepada penanggungjawab program.

KEDUA, MATERI/KONTEN
Materi pelatihan akan mudah diterima peserta ketika trainer menyampaikannya dengan cara interaktif. Agar pelatihan menjadi interaktif, seorang trainer dapat menggunakan dua model pembelajaran, empat metode pembelajaran, dan lakukan minimal lima interaksi. (2-4-5)

Sebagai tambahan penting untuk membuka sesi awal, trainer perlu menguatkan tentang tujuan pelatihan dan manfaat yang akan diterima peserta ketika mengikuti pelatihan tersebut. Hal tersebut dilakukan agar peserta merasa sangat perlu untuk mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir.


KETIGA, (PENYAMPAIAN TRAINING)
Pada bagian ketiga ini ada tiga tahapan yang perlu kita kuasai. Tiga bagian tersebut yaitu:
1.      Opening/pembukaan yang memukau. Kegiatan dalam pembukaan berupa salam, sapa, perkenalan yang menyenangkan, apresiasi, apersepsi, dan menyampaikan tujuan pelatihan.
2.      Menyampaikan materi tepat sasaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan agar materi tersampaikan dengan tepat yaitu suara kita harus jelas, nada tegas tanpa keraguan, intonasi tepat, menggunakan olah gerak tubuh.
3.      Penutupan yang berkesan.

Seorang trainer akan berupaya agar materi yang disampaikan dapat dipahami dan diterima dengan baik oleh peserta. Tentu saja beberapa hal sudah dibahas di atas, namun dalam praktiknya seorang trainer akan terus belajar melalui peserta dengan latar belakang berbeda, situasi yang berbeda, bahkan kendala dan tantangan yang berbeda pula.

Seorang trainer yang handal bukan berarti pelatihannya sempurna. Seorang trainer yang handal juga berawal dengan kegagalan, semua perlu pembiasaan, pengulangan, dan perbaikan. Jam terbang yang banyak akan membawa kita pada kedewasaan menyikapi tantangan dalam pelatihan.

Semakin banyak berkumpul dengan orang yang berilmu, semakin banyak menggali kedalaman ilmu, selanjutnya semakin banyak berlatih untuk menyampaikan ilmu secara berani, sistematis, dan menggugah.

Kita sering mendengar Aa Gym menyampaikan rumus 3M untuk berubah (dan membawa perubahan) yaitu Memulai dari diri sendiri, Memulai dari hal kecil, dan Memulai saat ini.

Foto bersama akhir pelatihan TfT
Hal ini pula yang akan diimplementasikan peserta pelatihan TfT. Kepala sekolah/madrasah secara bergantian akan mulai melaksanakan praktik TfT baik di sekolah masing-masing atau secara silang dengan diamati oleh KAWAN SLI dan kepala sekolah/madrasah lainnya sebagai observer.

Masih teringat antusias kepala sekolah/madrasah pada saat pelatihan. “Bu nanti setelah pulang dari sini praktik di sekolah, guru-guru kaget nanti”, ungkap salah satu peserta pelatihan.

Kita meyakini bahwa niat baik untuk menyebar kebaikan akan Allah bantu dengan kebaikan yang lebih banyak.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, 
niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kami

PROGRAM SEKOLAH LITERASI INDONESIA KULON PROGO Sekolah Literasi Indonesia KulonProgo (SLI KP) merupakan salah satu program dari Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang bertujuan untuk: Mewujudkan model sekolah berkualitas. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah berbasis literasi. Bentuk program SLI berupa pelatihan dan pendampingan kepada kepala sekolah dan guru secara terstruktur, berkala dan berkesinambungan sampai tahap implementasi praktis di sekolah. Untuk mendukung hal tersebut, SLI mengirimkan 2 orang Konsultan Relawan (KAWAN) SLI di wilayah Kulon Progo (Irfa Ramadhani & Wahyu Widiyawati). Selain 2 KAWAN di Kulon Progo, pada SLI angkatan 3 ini, Dompet Dhuafa Pendidikan mengirimkan 12 KAWAN lainnya ke 4 wilayah Indonesia berbeda. Wilayah tersebut antara lain Semarang, Jawa Tengah; Asahan, Medan; Bima, NTB; dan Halmahera Selatan, Maluku Utara. Masing-ma...