Oleh: Wahyu Widiyawati
Ada
yang masih ingat cita-citanya waktu kecil? Pasti ada yang ingin menjadi guru,
dokter, pengusaha, koki, tentara, polwan, dan lain-lain. Akan tetapi beranjak
dewasa terkadang cita-cita itu berubah lagi, lagi, dan lagi. Tenang, sebenarnya
itu hal yang wajar. Fitrahnya seorang anak, ketika melihat sesuatu yang menarik
dan berkesan ingin sekali menjadi seperti itu. Rasa ingin itu begitu kuat dan
membuat kita segera mempersiapkan diri dan memperjuangkannya. Poinnya ialah
bukan cita-cita yang terus berubah, tetapi impian yang melekat kuat, semangat,
dan upaya dalam mencapainya.
Pernah waktu mendapat cerita, ada seorang anak
usia dua tahun tidak mau digendong oleh pamannya. Alasannya menakjubkan. Anak
itu menjawab dengan gaya kekanakannya, “Abang kan mau jadi fireman
(pemadam kebakaran). Fireman itu besar,
kuat, berani, jadi abang gak usah digendong.” Ternyata, impian itu begitu
melekat kuat di dalam jiwa dan mampu menggiring seseorang berperilaku baik
layaknya sesuatu yang diimpikan. Hal itu penting untuk kita tanamkan sejak dini
oleh para orangtua maupun pendidik.
Dompet Dhuafa Yogyakarta divisi
pendidikan bersama Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) menyoroti perilaku kenakalan
anak dan remaja disebabkan diantaranya kurangnya perhatian keluarga dan
hilangnya tujuan atau impian di dalam jati diri seseorang. GAB hadir untuk
mencegah anak bermasalah, memudahkan anak sukses, dan menyemai generasi hebat.
Hal itu sudah dilakukan di berbagai daerah. Kulon Progo berkesempatan untuk
menerima pelatihan Gerakan Ayo Bercita-cita pada Jumat, 21 Februari 2020 di SDN
2 Sentolo. Kepala sekolah/kepala madrasah beserta perwakilan guru penerima
manfaat Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dan Inspiring Library (IB) yang
menjadi peserta mengikuti pelatihan dengan antusias.
![]() |
| Pemateri GAB: Rina Fatimah, M.Si. (Manager Program Pendidikan Dompet Dhuafa) |
Upaya Gerakan Ayo Bercita-cita yaitu
dengan kegiatan Sepuluh Menit Sepekan Bercita-cita (SMS Bercita-cita). Rina
Fatimah, M.Si. selaku Manager Program Pendidikan Dompet Dhuafa memberikan
materi serta memandu praktik kegiatan SMS. Tiga tahapan kegiatan ini yaitu
menumbukan kesadaran bercita-cita, menggambar cita-cita, dan menceritakan
cita-cita.
Eka Desiana, S.Pd. (guru SDN Karangwuni) berkesempatan menceritakan
cita-citanya waktu kecil. “Saya gambar makanan manis, ada kue, permen, dan
lain-lain. Ada yang tahu saya waktu kecil ingin jadi apa?” Para peserta kompak
menjawab koki, tapi rupanya bukan itu yang dimaksud oleh beliau. Ibu Desi
begitu sapaannya, sambil mengingat semasa kecil ia suka makan tapi tidak bisa
memasak. Ia ingin menjadi pengusaha kue dan yang memasak atau karyawannya ialah
tetangga sekitar. Ia ingin menjadi bermanfaat untuk sekitar melalui
cita-citanya. Begitu sangat detail dulu waktu kecil menginginkan apa, akan
berjualan dimana, karyawannya siapa. Meskipun sekarang beliau menjadi guru,
tapi impian menjadi pengusaha kue itu yang paling berkesan dan melekat kuat di
ingatan.
Cita-cita menjadi jembatan seseorang dalam menebar kebermanfaatan.
Cita-cita menumbuhkan generasi hebat. Ayo, tumbuhkan mulai sekarang. (way)
![]() |
| Foto bersama seluruh peserta pelatihan GAB Kulon Progo |



Komentar
Posting Komentar